Badan Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) resmi menghentikan operasi pencarian dan pertolongan pasca kecelakaan kereta api beruntun di Stasiun Bekasi Timur.
Keputusan tersebut diumumkan pada Selasa, 28 April 2026, setelah proses evakuasi dinyatakan tuntas.
Baca Juga
Kecelakaan melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL terjadi pada Senin malam sekitar pukul 20.57 WIB.
Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, menyatakan bahwa operasi SAR berhasil diselesaikan dalam waktu kurang dari 12 jam sejak kejadian.
Semua korban telah dievakuasi oleh tim SAR gabungan dengan prosedur evakuasi dan ekstraksi yang cermat.
Beberapa korban sempat terjepit di antara material rangkaian kereta akibat benturan keras.
Kondisi tersebut membuat tim tidak bisa menarik lokomotif secara langsung demi keselamatan korban.
Mohammad Syafii menyampaikan rasa syukur karena seluruh korban berhasil dievakuasi tanpa hambatan fatal.
Tim SAR menghadapi tantangan besar akibat deformasi parah pada rangkaian kereta pasca tabrakan.
Bahkan bagian lokomotif masuk ke dalam gerbong akibat kekuatan benturan yang sangat kuat.
Hal ini menyebabkan sebagian korban terperangkap di dalam reruntuhan kereta.
Evakuasi memerlukan bantuan peralatan khusus, baik manual maupun hidrolik.
Semua korban yang dievakuasi, baik yang selamat maupun meninggal dunia, telah diserahkan kepada petugas medis.
Mereka kemudian dirujuk ke sejumlah rumah sakit yang telah ditentukan.
Proses identifikasi lebih lanjut menjadi tanggung jawab pihak berwenang terkait.
Dengan tidak ditemukannya korban tambahan, operasi SAR resmi diakhiri.
Seluruh personel yang terlibat dikembalikan ke satuan masing-masing.
Namun Basarnas tetap siap melakukan evakuasi lanjutan jika ditemukan sisa jenazah atau indikasi lainnya.
Tindakan tersebut akan dilakukan sesuai prosedur standar yang berlaku.
Basarnas menyampaikan apresiasi kepada seluruh unsur yang terlibat dalam operasi SAR.
Termasuk TNI, Polri, PT KAI, tenaga medis, relawan, serta dukungan dari masyarakat dan media.
Mohammad Syafii menekankan kelancaran operasi berkat sinergi optimal antarlembaga.
Ia menyebut kejadian ini sebagai insiden luar biasa dengan tingkat kesulitan tinggi.
Insiden tersebut dapat ditangani secara efektif berkat kerja sama yang solid.
Berdasarkan data terakhir, tercatat 15 orang meninggal dunia dalam kecelakaan ini.
Sebanyak 76 orang lainnya mengalami luka-luka dan masih menjalani perawatan di rumah sakit.









