Insiden kecelakaan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line menyisakan duka mendalam bagi masyarakat.
Kecelakaan tersebut terjadi pada Senin, 27 April 2026, sekitar pukul 20.57 WIB di Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi.
Baca Juga
Kepala Basarnas Marsekal Madya Muhammad Syafii menjelaskan bahwa lokomotif KA Argo Bromo Anggrek tidak bisa langsung ditarik mundur setelah menabrak KRL.
Penarikan tidak dapat dilakukan secara langsung karena masih ada korban yang terjepit di dalam gerbong KRL yang ditabrak dari belakang.
Pertimbangan keselamatan korban menjadi prioritas utama sehingga evakuasi harus dilakukan dengan hati-hati.
Syafii menegaskan bahwa proses pemisahan lokomotif dari gerbong KRL memerlukan prosedur khusus untuk mencegah cedera tambahan pada korban.
Saat kejadian, terdapat lima korban yang masih terjepit dan membutuhkan proses ekstraksi atau retrikasi sebelum dievakuasi.
Tim SAR menggunakan peralatan standar operasional, termasuk alat manual, listrik, hingga sistem hidrolik untuk melakukan evakuasi.
Proses evakuasi dilakukan secara bertahap demi memastikan keselamatan para korban yang terjebak.
Syafii memastikan tidak ada anak-anak yang menjadi korban meninggal dunia dalam insiden tersebut.
Semua korban jiwa merupakan perempuan dewasa yang berada di gerbong KRL saat kecelakaan terjadi.
Sebagian besar korban tewas akibat terjepit oleh lokomotif KA Argo Bromo Anggrek yang menabrak dari arah belakang.
Badan Pencarian dan Pertolongan Nasional (Basarnas) resmi menghentikan operasi SAR pada Selasa, 28 April 2026.
Penghentian operasi menandai berakhirnya fase pencarian dan penyelamatan dalam penanganan kecelakaan tersebut.
Insiden ini juga menyebabkan kepadatan penumpang di sejumlah stasiun, termasuk Stasiun Pasar Senen, akibat gangguan perjalanan kereta api.
Penyebab kecelakaan diduga dipicu oleh insiden taksi listrik yang mengalami korsleting di dekat jalur rel, meski masih dalam investigasi lebih lanjut.









