Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mendorong laboratorium di perguruan tinggi dan lembaga riset Indonesia tidak berhenti menghasilkan penelitian. Ia ingin hasil riset tersebut mampu dikembangkan menjadi perusahaan hingga industri teknologi berskala global.
Brian menyampaikan visi tersebut saat menghadiri Indonesia Innovator Award 2026 di Jakarta, Senin. Menurutnya, Indonesia perlu lebih serius mendorong hasil penelitian dari laboratorium agar dapat masuk ke tahap komersialisasi dan menghasilkan perusahaan yang produknya mampu bersaing di pasar dunia.
Baca Juga
Ia berharap ke depan semakin banyak perusahaan yang lahir dari laboratorium Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) maupun perguruan tinggi di Indonesia.
“Mungkin selain produk-produk yang memiliki dampak besar, kita juga ingin melahirkan perusahaan-perusahaan yang lahir dari laboratorium BRIN dan kampus, yang kemudian produk-produknya ditunggu-tunggu oleh seluruh dunia,” ujar Brian.
Peneliti Harus Berani Lewati ‘Valley of Death’
Brian menilai salah satu tantangan terbesar dalam pengembangan inovasi adalah membawa hasil penelitian dari laboratorium menuju industri.
Banyak inovasi memiliki potensi besar, tetapi gagal melewati tahap kritis sebelum dapat diproduksi dan dipasarkan secara luas. Kondisi tersebut dikenal dengan istilah valley of death atau “lembah kematian” dalam proses hilirisasi inovasi.
Menurut Brian, proses tersebut membutuhkan keberanian, dukungan pendanaan, kolaborasi, serta ekosistem yang mampu menghubungkan peneliti dengan dunia industri.
“Menjadi perusahaan, perusahaan menjadi industri, dan memang di situ kalau kita sebagai peneliti, kita tahu valley of death, lembah kematian ada di sana. Begitu banyak produk inovasi, tetapi kita belum berhasil membawa itu kepada industri,” katanya.
Karena itu, ia mendorong para peneliti tidak hanya berorientasi pada keberhasilan menghasilkan publikasi atau temuan ilmiah, tetapi juga memikirkan bagaimana inovasi tersebut dapat memberikan dampak nyata kepada masyarakat.
Deep Tech Dinilai Jadi Kunci Indonesia Naik Kelas
Brian mengatakan Indonesia membutuhkan industri berbasis teknologi maju untuk dapat melakukan lompatan menuju negara maju.
Menurutnya, menciptakan produk dalam jumlah besar saja tidak cukup. Indonesia harus memiliki kemampuan menguasai teknologi tingkat tinggi dan mengembangkan industri yang memiliki nilai tambah besar.
Konsep tersebut dikenal sebagai deep tech industry, yakni industri yang bertumpu pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi canggih.
“Harus berdampak kepada masyarakat. Itu menjadi perhatian kita yang menjadi challenging untuk suatu negara melompat. Kalau kita lihat, muncul istilah deep tech industry, industri yang berbasis teknologi yang canggih, teknologi yang maju, karena itu kita butuhkan untuk kita bisa meloncat,” jelas Brian.
Ia menilai pengembangan industri semacam ini membutuhkan ekosistem riset yang kuat, termasuk kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan dunia usaha.
Belajar dari Keberhasilan Taiwan
Sebagai contoh, Brian menyinggung keberhasilan Taiwan membangun industri semikonduktor hingga melahirkan perusahaan teknologi yang menjadi pemain penting dunia.
Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak terjadi secara instan, melainkan melalui proses panjang yang melibatkan institusi riset dan pengembangan milik pemerintah serta dukungan ekosistem industri.
Pengalaman tersebut dinilai dapat menjadi pembelajaran bagi Indonesia dalam membangun industri teknologi berbasis riset.
Karena itu, Kemdiktisaintek memastikan kolaborasi dengan BRIN akan terus diperkuat untuk mendorong hasil penelitian agar dapat dikembangkan menjadi inovasi yang memiliki nilai ekonomi dan manfaat luas.
BRIN Siapkan Tiga Strategi
Kepala BRIN Arif Satria menyampaikan pandangan senada. Ia mengingatkan bahwa kemampuan suatu negara dalam menguasai teknologi akan sangat menentukan posisi dan martabat negara tersebut di tingkat internasional.
Untuk mendukung peningkatan kapasitas teknologi nasional sekaligus mempercepat pertumbuhan ekonomi menuju Indonesia Emas 2045, BRIN telah menyiapkan tiga strategi utama.
Pertama, menghadirkan inovasi yang dapat meningkatkan produktivitas dan daya saing usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Kedua, memperkuat daya saing industri nasional dan Danantara melalui riset serta inovasi.
Ketiga, memfasilitasi co-development dengan teknologi maju dunia sehingga Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi turut terlibat dalam proses pengembangannya.
N250 Jadi Simbol Kemampuan Teknologi Indonesia
Arif juga mencontohkan pesawat N250 sebagai salah satu simbol kemampuan bangsa Indonesia dalam mengembangkan teknologi sendiri.
Menurutnya, N250 tidak sekadar merupakan produk teknologi penerbangan, tetapi juga menjadi gambaran tentang pentingnya keberanian, kerja keras, kolaborasi, dan keyakinan bahwa Indonesia mampu menghasilkan teknologi sendiri.
“N250 bukan hanya sebuah pesawat, ia adalah simbol dari mimpi besar, kerja keras, kolaborasi, dan keberanian untuk menembus batas,” ujar Arif.
Ia menegaskan semangat tersebut perlu terus dihidupkan di BRIN maupun lembaga riset lainnya, termasuk perguruan tinggi.
Menurut Arif, Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar atau pengguna teknologi dari negara lain. Penguatan riset dan inovasi harus diarahkan agar Indonesia mampu menjadi bagian dari rantai pengembangan teknologi global.
Dengan memperkuat hubungan antara laboratorium, perguruan tinggi, lembaga riset, pemerintah, dan industri, hasil penelitian diharapkan tidak berhenti sebagai temuan ilmiah. Inovasi tersebut perlu didorong hingga menjadi produk, perusahaan, dan industri yang mampu memberikan dampak ekonomi sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat dunia.









